Timex Dinilai Telah Melakukan Pembohongan Publik terkait Pemberitaan Koin Siluman

oleh -119 Dilihat

Suara-ntt.com, Kupang-Ikatan Keluarga Kepulauan Alor (IKKA) Kupang merespon pemberitaan Harian Pagi Timor Express (TIMEX) terkait kedatangan perwakilan IKKA di Graha Pena pada Rabu, 29 September 2021 lalu. Mereka menilai TIMEX telah melakukan pembohongan publik terkait pemberitaan koin siluman.

Kedatangan tiga perwakilan IKKA Kupang yakni Bayu Mauta, Zwenglee Faley dan Onisimus Blegur ke kantor TIMEX dengan maksud untuk beraudiens sekaligus menyerahkan bantuan koin.

Salah satu Perwakilan IKKA Kupang, Bayu Mauta
menyayangkan pemberitaan TIMEX yang menyebutkan bahwa koin yang diletakan di depan pintu utama Graha Pena TIMEX adalah koin siluman.

“Sangat disayangkan, sebagai media yang katanya terbesar dan termahal di daerah ini, tetapi menunjukan kualitas pemberitaan yang sangat parah, keparahan itu kami memaknai dan memaklumi bahwa itulah kejongkokan cara berpikir. TIMEX harus jujur, menulis sesuai fakta, dan jangan melakukan pembohongan publik. Kalau tidak mau terima sumbangan koin kami, itu soal lain. Tapi tidak bisa menyimpulkan bahwa itu koin siluman. Karena keberadaan kami dan juga koin itu diketahui pihak TIMEX. Saat itu ada Wadirnya Yan Yandi, ada sekuritinya, juga polisi dan ada banyak wartawan yang meliput. Saat itu juga ada negosiasi yang kami lakukan dengan pihak TIMEX. Sampai pintu gerbang itu dibuka dan kami masuk dan letakan kotak berisi koin itu di depan pintu gedung Graha Pena TIMEX,” jelas Bayu Mauta.

Dia mengatakan, keberadaan pihaknya di TIMEX merupakan keberlanjutan dari aksi donasi kumpul koin yang sudah dimulai IKKA sejak 9 September 2021.

“Aksi koin ini kami lakukan untuk membantu pihak TIMEX karena tidak mampu membayar hak-hak karyawannya yang diPHK sepihak. Sehingga setelah terkumpul, kami ingin serahkan ke TIMEX. Keberadaan kami di situ diketahui pihak TIMEX dan juga polisi, sehingga sangat disayangkan kalau disebutkan koin siluman. Kalau dibilang koin siluman, berarti kami juga dianggap siluman. Sangat lucu, sebagai media harus jujur dong, tapi kami memaklumi, memahami lelucon yang tidak lucu ini” kata Bayu. 

Menurutnya, koin yang terkumpul tersebut merupakan bentuk kepedulian warga diaspora Alor di Kupang, termasuk partisipasi sebagian besar jurnalis yang ikut bersimpati dan berempati terhadap persoalan PHK jurnalis TIMEX.

“Banyak teman-teman jurnalis di Kupang yang secara sukarela ikut berpartisipasi menyumbang koin dalam aksi kami. Aksi kumpul koin itu merespon Wadir TIMEX, Yan Tandi yang sebelumnya menyampaikan bahwa tidak bisa membayar hak Obet Gerimu karena kondisi perusahaan,” jelas Bayu.

Masih menurut Bayu Mauta, TIMEX yang mengusung moto “Cerdas dan Konsisten”, tetapi nyatanya tidak demikian dalam pemberitaan persoalan ini.

“Kadar kecerdasannya ternyata sejauh itu ya? Miris. Saya lucu sendiri, judul dan isi berita tidak sesuai. Di isi berita, TIMEX menguraikan kronologi keberadaan aksi kami, tetapi judulnya bilang koin siluman. Di sini publik silahkan menilai sendiri kualitas mereka yang katanya cerdas dan konsisten. TIMEX harus cerdas dan konsisten,” kritik Bayu.

“Apalagi yang saya dengar kemudian bahwa inisial wartawan yang dicantumkan di akhir berita ternyata dicatut, begitu juga credit foto. Wartawan yang bersangkutan sudah mengaku tidak pernah menulis berita itu karena saat itu sedang meliput di tempat lain. Ini kan konyol. Masa media sekelas TIMEX bisa seperti itu. Justru kami juga bisa menilai dan simpulkan bahwa ini berita siluman karena ditulis oleh orang yang tidak diketahui. Mungkin saya bisa simpulkan bahwa siluman itu sebenarnya dimulai dari pemberitaan tersebut,” lanjut dia.

Bayu juga sangat menyayangkan nasib oknum wartawan TIMEX yang selalu dijadikan tumbal karena identitasnya selalu dicatut dalam dua kali pemberitaan TIMEX terkait persoalan PHK jurnalis Obet Gerimu.

“Kami dapat informasi yang tulis berita-berita itu Pemrednya sendiri, tapi selalu mencatut inisial resporternya yang sama sekali tidak tahu-menahu soal substansi persoalan ini. Media yang sudah terverifikasi Dewan Pers koq seperti ini,” kesal Bayu Mauta.

“Soal pencatutan identitas wartawan tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, itu juga termasuk kejahatan dalam jabatan atau perbuatan sewenang-wenang dalam jabatan,” tegas Bayu Mauta.

Hal senada disampaikan perwakilan IKKA lainnya, Zwenglee Faley, bahwa TIMEX harus jujur dalam menyampaikan situasi dan fakta yang sebenarnya saat aksi koin dimaksud.

“Kami tegaskan bahwa kami bukan siluman. Kami jelas dari utusan IKKA. Kami ke TIMEX sebagai keluarga yang peduli pada Obet Gerimu di satu sisi, dan juga TIMEX di sisi lainnya. Dan yang tertinggi adalah peduli pada tegaknya keadilan dan kemanusiaan. Jika jajaran pimpinan TIMEX tidak menerima koin dan pernyataan isi hati keluarga yang kami bawa tidak apa-apa. Itu hak mereka. Tapi jangan buat pernyataan yang berseberangan yang tidak sesuai fakta, karena berpotensi memantik persoalan baru yang tidak kita inginkan bersama,” tegas Zwenglee.

“Jika tidak terima, anggap saja ini bentuk satire dari kami keluarga. Toh ini negara demokrasi. Saya rasa tidak ada yang salah. Setiap orang berhak menyatakan pendapat, melakukan aksi, serta bentuk lainnya ketika ditemukan ada hak-hak keadilan dan kemanusiaan seseorang yang dilanggar,” pungkasnya. (HT)