Sejumlah Ruang Publik di NTT Ditulis dalam Bahasa Asing

oleh -131 Dilihat

Suara-ntt.com, Kupang-Tak dipungkiri lagi bahwa sejumlah fasilitas atau ruang publik di Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan dan ditulis dalam bahasa asing (Inggris) bukan dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah.

Fasilitas atau ruang publik itu antara lain: tulisan Bandara El Tari Kupang (Air Port El Tari Kupang), keluar masuk (in-out), dilarang merokok (no smoking), pantai Kupang (Kupang beach), ucapan selamat datang (welcome) dan lain sebagainya.

Bahkan tulisan semacam itu bukan hanya ditemukan di ruang publik tetapi sudah merambat ke dunia birokrasi dalam hal ini kantor-kantor pemerintahan.

“Kita perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini yang harus diperhatikan oleh kita semua,”kata Widyabahasa Ahli Muda Kantor Bahasa NTT, Pangkul Ferdinandus dalam kegiatan peningkatan kemahiran berbahasa penyegaran kompetensi berbahasa bagi wartawan media massa se-Provinsi NTT tahun 2024 di Hotel Kristal Kupang pada Rabu, 24 Januari 2024.

Ferdinandus mengatakan, saat ini bahasa Indonesia tidak mendapatkan tempat di rumahnya sendiri apalagi di bandara. “Kalau di Jawa bahkan di bandara informasinya selain pakai bahasa asing, bahasa Indonesia ada juga dalam bahasa Jawa. Kita tahu bahwa memang di NTT adalah daerah kepulauan sehingga tidak semua bandara pengumuman pakai bahasa daerah tapi di daerah tertentu kita bisa pakai bahasa daerah,”ungkapnya.

Dia menceritakan ketika pulang dari Jogja di bandara ada pengumuman pakai bahasa Jawa selain bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. “Ini sesuatu luar biasa yang patut ditiru,”ucapnya.

Dikatakan, di NTT tak ada satupun daerah yang mempunyai peraturan daerah (Perda) soal bahasa daerah. “Kita mau ada peraturan daerah khusus untuk bahasa daerah, tapi belum ada sampai saat ini. Kita sudah berjuang hanya pemerintah daerah selalu katakan anggaran tidak ada,”bebernya.

Lebih lanjut kata dia tiga tahun terakhir ini mereka fokus pada revitalisasi bahasa daerah untuk menghidupkan kembali khususnya bagi generasi muda. Namun sayangnya anak-anak jaman sekarang merasa minder jika omong bahasa daerah.

“Ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk hidupkan bahasa daerah di lingkungan generasi muda,”jelasnya. (Hiro Tuames)