Program TJPS Menuju Skala Industri

oleh -128 Dilihat

Suara-ntt.com, Oelamasi-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) melakukan panen padi dan tanam jagung dari program tanam jagung panen sapi (TJPS) periode tanam bulan April-September di kawasan persawahan Kolidoki Desa Manusak Kabupaten Kupang dengan luasan lahan potensial 800 hektare.

Gubernur Viktor mengatakan, program TJPS bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan pangan, melainkan juga untuk pergerakan ekonomi menuju skala industri.

“Untuk menanam jagung sebanyak ini bukan saja untuk makan melainkan untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok industri pakan ternak, kita mesti menyiapkan rantai pasok di daerah ini karena uang yang keluar dari NTT untuk pembelian pakan ternak, setiap tahun sebanyak satu triliun rupiah lebih,” ungkap Gubernur Viktor di kawasan persawahan Kolidoki Desa Manusak Kabupaten Kupang pada Sabtu, 29 Mei 2021.

Dikatakan, restorasi pertanian di NTT mulai terealisasi melalui TJPS dimana program tersebut bertujuan untuk meningkatkan luas tanam jagung, meningkatkan produksi dan produktivitas, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memanfaatkan musim kemarau untuk berproduksi, meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi petani, serta menurunkan tingkat kemiskinan.

Dia menekankan tentang kerja kolaborasi, kerja di luar kemampuan manusia, manajemen pengelolaan air untuk setiap musim tanam sehingga terwujudnya tanam, jaga dan panen.

“Kerja diatas 800 hektare, jangan kerja lamban dan biasa-biasa saja, kalau tidak kita gagal. Pemimpin pada Dinas Teknis (Pertanian, Peternakan, Perindustrian dan Perikanan) haruslah aktor lapangan yang tangguh di lapangan. Kalau mau program kita berhasil maka Camat, Danramil dan Kapolsek setiap hari harus jaga di sini. Bupati dua kali dalam seminggu, dan Gubernur sebulan sekali. Kita lihat Sumba Tengah, berhasil hanya karena ada kepedulian Bupati Kapolres Dandim para Maramba, dinas terkait, dan para pemudanya,” ungkapnya.

“Alat pertanian dilarang diberikan ke petani, karena para petani butuh lahannya dikelola dan ditanam. Untuk itu, sistemnya brigade, lahan dan petani dimana siap, alsintan turun disitu, kebijakan ini diterapkan untuk mewujudkan keadilan bagi para petani di NTT.”

“Kalau panen artinya tanamnya bagus dan jaganya bagus, tapi saat tanam kita perlu skenario terbaik, misalkan Oktober-Maret kelebihan air dan April-September itu kekurangan air maka kita mesti analisa manajemen pengelolaan air agar kita tidak gagal pada kesalahan yang sama,”tambahnya.

Sementara itu Bupati Kupang, Korinus Masneno menyatakan siap berkolaborasi antar program kabupaten dengan Revolusi 5P dan program pemerintah provinsi yakni TJPS.

“Ditempat ini Potensinya 800 hektare baru dikelola 160 hektare untuk padi, segera kami berikan bantuan bibit dan pupuk sebagai program kami Revolusi 5P, namun senang hati juga TJPS masuk di wilayah ini untuk optimalisasi lahan seluas 800 hektare,”ungkapnya.

Rektor Undana Kupang, Frederik L. Benu menyampaikan terkait program TJPS, Undana Kupang mendukung penuh pelaksanaannya sebagai wujud kontribusi lembaga pendidikan terhadap pembangunan NTT.

“Atas nama para petani menyampaikan apresiasi, kami sangat merespon dan mendukung program TJPS, pada saat yang sama, lokasi ini kami manfaatkan air dari bendungan Raknamo. Harapan kami bapak Gubernur mendorong semua pihak terlibat aktif  mengelola lahan 800 hektare. Kami siap bekerjasama termasuk Kampus Undana, termasuk 30.000 mahasiswa yang kami optimalkan untuk mendukung Program TJPS,” ungkap Rektor Fred

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky F. Koli dalam sambutanya menyampaikan terkait rantai nilai, peluang ekonomi bagi masyarakat serta skenario optimalisasi lahan potensial dan air.

“Panen 160 hektare di lahan potensial 800 hektare, menghasilkan beras 400 ton maka menghasilkan 4 M, didinas pertanian kami segera menggarap untuk TJPS di lahan ini, segera 800 hektare kita kelola kita panen jagung dalam waktu 100 hari, maka nilai ekonomi dimana proteksi produksi yang dihasilkan 3000 ton maka petani menghasilkan 90 miliar rupiah kalau kita integrasikan dengan ternak maka dapat lebih meningkatkan pendapatan petani, areal ini kita bisa skenariokan pengelolaan air tanam Padi-Jagung-Kacang dengan memanfaatkan jaringan irigasi Raknamo agar bermanfaat bagi petani,” ungkap Kadis Lucky

“Setelah ini kami segera distribusi alsintan, benih, bibit dan pupuk sesuai dengan tahapannya dan SDM Provinsi dari persiapan hingga panen, untuk pupuk perlahan kita beralih dari pupuk kimia menuju ke pupuk organik dengan persentase 80:20 persen dan pastinya pastinya berkontribusi juga terhadap pertumbuhan ekonomi bagi daerah ini,” jelasnya. (HT)