Kota Kupang Harus Tampilkan Ciri Khas dari Sebuah Kota Provinsi

oleh -40 Dilihat

Suara-ntt.com, Kupang-Sebagai ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kota Kupang harus menampilkan ciri khas dari sebuah kota. Dimana pada malam hari harus terang, siang bersih, parkirannya jelas dan sampah juga dikelola dengan baik.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskoda (VBL) mengatakan, pembangunan sebuah kota itu sangat berkaitan dengan aspek pelayanan publik (serivice) termasuk dalamnya manajemen pengelolaan sampah atau waste management harus didorong secara serius.

“Pungut sampah atau collecting itu hanya merupakan satu aspek dari manajemen pengelolaan sampah. Kalau soal ini saja sudah merupakan masalah berat, bagaimana kita bicara aspek lain seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan proses daur ulang. Termasuk didalamnya bak-bak sampah harus ditempatkan di tempat yang sesuai, bukan di jalan-jalan protokol,”katanya ketika melakukan kunjungan kerja (kunker) di Kota Kupang, Rabu (30/9/2020).

Dalam kunjungan kerjanya, Gubernur Viktor meminta Wali Kota Kupang bersama jajarannya untuk memperhatikan secara serius pengelolaan sampah di Kota Kupang. Sebagai ibukota Provinsi NTT, Kota Kupang harus mempunya desain penanganan sampah yang jelas.

“Desainnya atau penanganan sampah harus jelas. Kita perlu armada untuk pengumpulan sampah berapa? Bagaimana para lurah dan ketua RT/RW lakukan sosialiasasi manajemen sampah rumah tangga? Titik-titik sampah ditempatkan di mana, itu menjadi tanggung jawab Lurah dan RT/RW. Ini dulu harus jelas,”ungkapnya.

Dikatakan, persoalan sampah di Kota Kupang bukan hanya tanggung jawab pemerintah Kota Kupang tapi juga pemerintah provinsi. Perlu ada kerja sama dan pembagian tanggung jawab yang jelas, mana yang jadi tanggung jawab provinsi dan juga termasuk pemerintah pusat. Harus dirumuskan secara tegas.

“Saya serius sekali bicara seluruh permasalahan di kota ini, bukan karena tidak suka atau punya maksud tertentu tapi karena ini kota provinsi. Yang malu kalau kota ini tidak tertata dengan baik dan kotor, bukan hanya Wali Kota Kupang tapi juga Gubernur NTT. Saya ingin kita menjadi pemimpin yang in charge, kerja terlibat dan sampai tuntas, tidak hanya omong saja. Hari ini saya datang bertemu pak Wali untuk kita bagi tugas sudah. Saya punya tugas apa dan pak Wali Kota Kupang punya apa,”pintanya.

Persoalan sampah lanjutnya, harus menjadi gerakan bersama seluruh komponen di Kota Kupang. Termasuk TNI/Polri, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dari SD sampai dengan SMA. Karena hal ini berkaitan dengan membangun peradaban dan mindset.

“Kalau kita bisa tanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya sejak anak usia SD, pengaruhnya akan sangat besar. Guru-guru juga harus latih anak-anak hal ini. Ini sosialisasi dan gerakan yang harus dilakukan secara terus-menerus untuk bangun peradaban. Tinggal tiap pagi kita bisa atur, misalnya Gubernur selama beberapa menit sosialisasi di sekolah mana, Wali Kota masuk SD mana, Dandim masuk SMP mana dan Kapolres di sekolah mana. Termasuk melibatkan pihak swasta baik itu pemilik toko, restoran dan penanggung jawab hotel. Kalau ini kita lakukan dengan baik, saya yakin dalam tempo enam bulan, masalah sampah bisa selesai,”bebernya.

Presiden Jokowi Sudah Siapkan Tambahan Dana untuk Tata Kota Kupang

Dalam kesempatan itu Gubernur Viktor juga memberikan apresiasi kepada Wali Kota Kupang, Jefritson Riwu Kore karena dengan gigih memperjuangkan penataan trotoar di Kota Kupang kepada Presiden. Dimana ada pembenahan taman-taman kota dan adanya predestrian yang baik untuk pejalan kaki sehingga menunjukkan kota ini makin maju.

“Ini sebagai wujud cinta dan kepedulian Presiden Joko Widodo kepada Provinsi NTT khususnya Kota Kupang. Bahkan beliau sudah menyiapkan lagi tambahan dana untuk menata dan merapikan lagi jalan-jalan di Kota Kupang”.

“Jadi seumpama kebutuhan akan air bersih direncanakan dengan baik, tinggal kita bicarakan kota tanggung berapa, provinsi buat apa dan minta juga ke pusat mumpung presidennya masih sangat perhatian dengan kita,”pungkas mantan anggota DPR RI dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) ini.

Sementara itu Wali Kota Kupang, Jefritson Riwu Kore mengakui, persolan sampah memang menjadi momok bagi Kota Kupang. Pemerintah Kota Kupang terus berupaya untuk menangani permasalahan tersebut.

“Kami malu pak Gub (Gubernur) karena sampah masih bertebaran di mana-mana. Sampai saat ini, kami baru bisa angkut sekitar 87 persen sampah. Karena beberapa kendala seperti bin kontainer yang hanya 6 unit saja saat kami memimpin. Sejak tahun 2019, kami adakan 40 bin kontainer untuk penataan kota. Mobil sampah ada sekitar 30 unit, 23 unit sudah tua. Periode ini kita tambah 8 unit mobil baru. Dalam dua tahun terakhir kita juga adakan 2.000 unit tong sampah. Kami berterima kasih atas bantuan satu unit mobil penyapu jalan dari pemerintah provinsi,” jelas mantan anggota DPR RI dari Partai Demokrat ini.

Wali Kota Kupang memberikan apresiasi atas motivasi dan perhatian dari Gubernur NTT terhadap berbagai permasalahan di Kota Kupang. Jefri berjanji akan mengambil langkah-langkah strategis dan lebih tegas untuk mengelola sampah di Kota Kupang.

“Terima kasih banyak Bapak Gubernur atas semua masukan dan catatan yang luar biasa. Kasih tanggung jawab kepada kami untuk kami berubah dalam enam bulan ini khususnya dalam penataan kebersihan ini. Kita akan kerjakan dengan lebih sungguh,” pungkasnya. (HT/Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)