Kekuatan Narasi dalam Memimpin

oleh -117 Dilihat

Oleh : Verry Guru
(Kasubag Kepegawaian dan Umum
Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi NTT)

Suara-ntt.com, Kupang-TANPA terasa hari ini (5 September 2022), rentang waktu kalender masehi genap sudah empat tahun Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama Wakil Gubernur Josep A. Nae Soi (JNS) memimpin Provinsi NTT. Mereka berdua dikenal dengan tagline NTT Bangkit NTT Sejahtera.

Kita semua tentu merasakan ada perubahan tatkala Gubernur VBL memimpin daerah ini. Gaya bicara yang blak-blakan; apa adanya. Gaya memimpin yang to the point; tidak bertele-tele; cepat dan ingin agar semua yang dikerjakan terukur serta ada kemajuannya.

Gubernur VBL menunjukan hal-hal yang praksis namun berdaya magis yang tinggi; sebut saja misalnya mulai dari memungut sampah. Selain itu, penegakkan disiplin di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN). Bahkan pernah ada ASN yang mengenakan rompi orange. Mereka ada dalam kategori yang tidak disiplin masuk dan pulang kantor. Juga pernah ada pejabat yang dihukum scott jump karena sound system yang ‘eror” ketika ada kegiatan rapat kerja di gedung olah raga Flobamor, beberapa waktu lalu. Dan masih ada banyak contoh lain.
Seolah-olah Gubernur VBL ingin mengatakan bahwa, “satu tindakan nyata lebih berarti daripada seribu kata; yang hanya mampir di telinga kanan lalu keluar di telinga kiri dan tak berkesan bahkan tak membekas sedikitpun di otak dan hati setiap yang melihat serta mendengar apa yang dikatakannya.”
Karena itu, artikel ini tidak sedang mengukur sejumlah indikator keberhasilan program Gubernur VBL dalam memimpin daerah ini tetapi sekadar menelisiknya dari aspek narasi yang digaungkan Gubernur VBL; sejauh dokumen yang sempat terdokumentasi.

Kekuatan kata ada istilah “Words Can Change Your World.” Artinya: “Kata-kata dapat mengubah kehidupan Anda.” Hal ini menggambarkan bahwa kekuatan kata-kata (words) memiliki dampak yang begitu besar dalam mengubah kehidupan anda ke arah yang baik atau ke arah yang buruk.

Words atau kata-kata dibagi menjadi dua jenis yakni positif dan negatif. Yang dimana setiap jenis mempunyai konten dan maksud yang berbeda dalam pengucapannya.
Kata-kata positif mengandung beribu makna positif seperti sebuah ungkapan syukur, penghargaan, motivasi; baik itu adalah kata-kata yang bersifat lisan maupun tertulis. Sedangkan kata-kata negatif mengandung beribu makna negatif seperti sebuah ungkapan caci-maki, penyesalan, baik bersifat lisan maupun tertulis. Pemilihan kata juga terkadang memberikan efek yang berbeda dalam kehidupan ini.
Dunia saat ini sudah terlalu sesak dipenuhi dengan aneka energi negatif yang bertebaran di sana-sini; apalagi di media sosial (FaceBook, WhatsApp, dan lain sebagai).

Entah berapa perbandingan kuantitatif antara energi negatif dan positif yang bertebaran di daerah ini. Ada juga pandangan yang mengatakan bahwa sembilan energi negatif akan netral dengan satu energi positif. Benarkah? Memang kita belum memiliki bukti secara ilmiah yang menyimpulkan tesis tersebut. Tapi secara sederhana kita bisa membuktikan, kalau ada sekelompok orang yang bertikai, kemudian datang seorang yang arif nan bijak dan mendamaikan pertikaian tersebut, besar kemungkinan pertikaian tadi bisa dihentikan.

Ungkapan itu, tidak hanya ditujukan kepada manusia; tetapi juga kepada benda, hewan atau makhluk tidak hidup lainnya juga patut untuk diungkapkan. Tidak heran kalau penelitian Masaru Emoto dalam The Power of Water yang meneliti tentang air yang diberi ungkapan-ungkapan yang baik-baik akan membentuk kristal yang sangat indah. Sementara air yang dimaki, dimarahi, dibenci akan memunculkan kristal yang jelek. Kalau air saja bisa memberi efek seperti itu apalagi manusia ?

Karena itu, dalam kaca mata psikologi, Psikolog Muzafer Sherif dan Carl Hovland mengatakan : sepanjang orang masih mempertanyakan “apakah ada yang salah pada diri kita” tidak mungkin akan ada tenaga untuk berubah. Karena, energi kita akan terkuras habis untuk menutup mata dan membela egonya. Belum lagi individu biasanya memang sudah disibukan dengan aktivitas-aktivitas business as usual, yang sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun. Individu perlu masuk kesituasi the latitude of acceptance; di mana pemahaman diri atau mawas diri individu sudah mencapai titik optimal. Dengan kata lain, individu dan masyarakat atau para ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT, harus merasa ok dulu untuk berubah, baru bisa bergerak.

Setiap orang termasuk Gubernur VBL yang menginisiasi perubahan di daerah ini; tidak bisa hanya meneriakan ajakan untuk berubah. Diperlukan langkah-langkah strategis dan konkrit yang luar biasa, bila kita ingin mencapai hasil yang berbeda atas nama perubahan. Bila tidak demikian, sulit rasanya mencapai kesuksesan karena manusia pada dasarnya akan merekam reaksi-reaksi sukses yang pernah dilakukannya untuk mengulang kembali kesuksesan yang pernah dikerjakan.

Perubahan kebiasaan, apalagi mindset, memerlukan strategi yang cermat dan cerdas untuk mendapatkan keterlibatan massal. Langkah-langkah perubahan kecil perlu diamati, disadari, dan diapresiasi. Bila tidak semuanya akan kembali menuju titik nol. Kita perlu menanamkan dalam keyakinan bahwa perubahan bukan konversi. Perubahan tidak mungkin dicapai dengan satu pukulan atau satu tindakan saja. Karena itu, ada hal yang sangat menarik yakni setiap kali melihat ada sampah, pasti Gubernur VBL langsung memungutnya. Sekali lagi ingin ditegaskan bahwa Gubernur VBL tidak hanya berkata-kata tetapi mampu dan sanggup memberi contoh atau keteladanan. Kata orang, “satu tindakan menggantikan ribuan kata-kata.”

Selanjutnya kita bertanya apa sesungguhnya yang diinginkan dan diharapkan oleh Gubernur VBL dalam memimpin daerah ini? Seorang pemimpin membutuhkan dukungan dan memerlukan kerjasama, koordinasi, disiplin dan saling menghargai secara tulus di antara orang-orang yang dipimpinnya. Dalam ilmu kepemimpinan (leadership) dikenal dua tipikal yakni tipikal transaksional dan tipikal transformatif.

Tipikal kepemimpinan transaksional mengutamakan maksimalisasi keuntungan dalam setiap keputusan atau kebijakannya. Pemimpin transaksional menggunakan konstituen karena ada sesuatu dan untuk mendapatkan sesuatu, terutama keuntungan nominal.
Sebaliknya pemimpin transformatif bergandengan erat, memotivasi, membantu, menggerakan passion masyarakat atau orang-orang yang dipimpinnya untuk menciptakan sekaligus mencapai tujuan bersama yang terbaik. Pemimpin transformatif mampu membuat kebijakan yang sulit serta berani mengambil risiko.
Ini hanya sebuah catatan ringan untuk lebih memahami dan menghayati apa arti kepemimpinan yang sesungguhnya yang sedang dilakonkan oleh Gubernur VBL bersama timnya. Karena kedepan, kepemimpinan moderen dihadapkan pada konteks dan tantangan yang lebih dinamis. Namun kinerja pemimpin tetap menjadi denyut nadi; maju-munudur, hidup-mati institusi yang dipimpinnya. Seperti kata Napoleon, a leader is a dealer in hope. Pemimpin moderen harus mampu mendorong orang-orang yang dipimpinya untuk menciptakan tujuan, memperkuat kohesi sosial, menyediakan tatanan sekaligus memobilisasi kerja kolektif secara produktif dan efektif untuk mengeluarkan masyarakat NTT dari belenggu kemiskinan termasuk kemiskinan ekstrim.

Kita sungguh menyadari tak ada pemimpin yang sempurna dan sejarah telah menjadi laboratorium yang tidak sempurna. Angin dan badai selalu mengarungi nasib pemimpin. Mereka terbukti menjadi sosok pemimpin yang dirindukan bukan semata-mata karena jabatan, melainkan lebih pada apa yang telah mereka lakukan atau kerjakan.
Pepatah Latin mengatakan, “Tum Spiro, Spero.” Yang berarti: “Selama Kita Bernafas, Kita Berusaha.” Karena itu, buanglah kata menyerah atau berputus asa dalam hidup ini. Hidup ini sangat berarti. Teruslah berkarya dengan hal-hal kecil tapi dampaknya sangat besar bagi kemaslahatan banyak orang. Karena kita adalah manusia, makhluk yang luar biasa. Bekerja dan berjuanglah sampai nafas terakhir. Perubahan itu ada di depan mata kita. Hanya orang yang memiliki niat dan semangat untuk berubah akan hidup dengan penuh suka cita.

Di ujung tulisan ini seseorang mengirim pesan WhatsApp, “mata terindah adalah yang selalu melihat kebaikan orang lain dalam hidup kita.” (*)