Bermodalkan Sebuah Smart Handphone, Orang Bisa Kontrol Dunia

oleh -122 Dilihat

Suara-ntt.com, Oelamasi-Pater Fritz Meko, SVD mengatakan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis digital membuat segala sesuatu dikerjakan dengan mudah karena berbasis ‘kelincahan jari-jari tangan’ bermain di atas tuts-tuts komputer (DIGITUS).

Pater Fritz membawakan materi tentang Digitalisasi Masyarakat NTT dalam Teropong Antropologi-Teologi. Dalam paparannya dijelaskan, penemu handphone oleh Martin Marty Cooper (1973)melalui aplikasi dalam ponsel seperti: Whatsapp, Instagram, Youtube, Twitter, Microsoft Office, E-mail dan lain sebagainya menyebabkan dunia begitu sempit dan orang bisa mengontrolnya.

Dikatakan, saat ini orang bisa mengontrol dunia hanya melalui sebuah smart handpone. Bahkan dunia bisa dilipat melalui alat komunikasi itu.

“Dengan adanya HP menyebabkah dunia bisa dikontrol dengan enteng baudrillard. HP menyebabkan dunia bisa dilipat dan diisi dalam saku celana, rok dan tas tangan. Kalau dunia bisa dilipat, maka dunia bisa dibuat baik dan dibuat rusak dalam seketika,”katanya pada acara seminar ‘ Tantangan Masyarakat NTT Menyikapi dan Memasuki era Digital Society dan Post Digital Society dalam Perspektif Teologis-Antropologis’ yang digagas Mahasiswa Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang  di Gereja Ebenhaezer Tarus Barat pada Senin, 27 Juni 2022.

Menurutnya, revolusi digital adalah perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital yang terjadi sejak tahun 1980 dan berlanjut sampai saat ini. Dan digitalisasi itu nampak dalam berbagai bidang seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, kesehatan, transportasi komunikasi dan lain sebagainya.

Semua aplikasi dalam HP kata dia, memungkinkan komunikasi dalam segala bentuknya menjadi kondusif. Hidup seakan mudah dan semua keinginan terpenuhi. Hakekat digitalisasi itu adalah integrasi teknologi digital ke dalam kehidupan sehari-hari. Efek posetif dari teknologi digital sebagai produk inovasi menjanjikan kebaikan dan bermanfat. Teknologi digital membantu hidup menjadi lebih mudah dan baik.

Teknologi digital juga bisa menghemat waktu dan uang dan memiliki dampak lebih besar terhadap karakteristik fundamental budaya yang mencakup hukum, seni, bahasa, mobilitas, layanan kesehatan, agama dan pendidikan.

Selain itu digitalisasi juga membawa efek negetif yang membuat pengguna kecanduan, terjadi proses dehumaniasi, demoralisasi, desakralisasi, kehidupan privat diintervensi, pengangguran karena konversi pekerjaan dengan robot, destruksi kreativitas, kurangi tenaga manual dalam dalam suatu organisasi, institusi atau industri, cybercrime, alone together, orang tua elektronik, guru elektronik dan lain sebagainya.

Lebih lanjut kata dia, masyarakat NTT berbudaya dan mempunyai kearifan hidup yang luhur. Aneka sukunya terbingkai dalam ragam budaya yang memberi daya komplementer dalam mewujudkan NTT sebagai nusa mosaik yang indah.

Masyarkat NTT juga sudah mengenal wujud terrtinggi sebelum masuknya agama-agama besar (Katolik, Protestan, Islam, Hindu, Budha). Ketika masuk agama-agama besar  masyarakat NTT makin berakar dalam iman mereka. Di balik kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan ini, masyarakat NTT juga masih mempunya ‘setumpuk’ kelemahan/kekurangan.

Masyarakat NTT lanjutnya, sebenarnya masih tergolong masyarakat Pre-Literer. Masukanya media komunikasi digital, menyebabkan masyarakat NTT ‘bingung sekaligus euforia’ lalu  membuat mereka seperti  mengalami dis-orientasi.

“Orang mudah tercabut dari akar budayanya. Kehidupan etika dan moral terdikte begitu enteng. Melemahnya rasa iman. Agnostik dan cenderung menggugat institusi agama kemudian glorifikasi otonomi diri berlebihan sehingga merusakan etika hidup bersama,”ungkapnya.

Melemahnya kohesi hidup keluarga terciptanya realitas ‘alone together’ Terciptanya orang tua elektronik, merebaknya demoraliasi, dehumanisasi dan desakralisasi dimana hidup dengan panduan keinginan yang meluap (naturalisasi hawa nafsu).

Dia menambahkan, masyarakat NTT perlu berakar dalam budayanya, iman dan keyakinan serta filosofi hidup warisan leluhur. Disamping itu menumbuhkan kearifan hidup yang terpancar dari jantung masyarakat. Pendidikan nilai dasar perlu ditumbuhkan dalam keluarga dan emberikan etika penggunaan media komunikasi di sekolah. (Hiro Tuames)