Bergandengan Tangan demi Wujudkan Kesatuan dan Kerukunan Nasional

oleh -88 Dilihat

Suara-ntt.com, Kupang-Wakil Gubernur NTT, Josep A. Nae Soi sangat optimis bahwa kehidupan  keagamaan di Indonesia akan semakin semarak, jika semua pemimpin agama dan umatnya saling bergandengan tangan demi mewujudkan kerukunan umat beragama.

“Saya sangat optimis bahwa kehidupan keagamaan di negara kita di masa mendatang akan semakin semarak, apabila semua pimpinan keagamaan dan umat beragama saling bergandengan tangan untuk mewujudkan kerukunan, dan keharmonisan hidup beragama dan menjadikannya pilar penyangga terwujudnya kerukunan nasional,” katanya ketika memberikan menghadiri dan memberi pada pembukaan Konfrensi ke VII Gereja Kemah Injil Indonesia Daerah Kupang-NTT Gedung Kebaktian GKII Jemaat Oebobo pada Rabu, 8 September 2021.

Wagub Nae Soi mengatakan, menyaksikan semarak dan semangat kehidupan beragama di tengah masyarakat saat ini, di satu sisi menjadi sebuah kebanggaan atas keberhasilan pembangunan di bidang agama.  Namun di sisi lain juga menyaksikan munculnya sikap fanatisme yang berlebihan dan mungkin kurangnya pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai hakiki dari agamanya, sehingga terkadang sampai menimbulkan keresahan bahkan tindakan destruktif, karena kurang menghargai atau bertenggang rasa terhadap pihak lain yang berbeda agama atau keyakinan.

Dikatakan, pemerintah sangat mengagungkan dan menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan bangsa, untuk itu semangat persatuan dan kesatuan bangsa tersebut bukan hanya terbatas pada kesatuan bangsa, tanah air dan bahasa, tetapi harus dapat melingkupi seluruh dimensi kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.

Salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesatuan dan kerukunan nasional adalah apabila terdapat kerukunan hidup beragama dalam masyarakat. Keharmonisan hidup sosial kemasyarakatan, khususnya kerukunan umat beragama, akan dapat tercapai jika masing-masing pihak yang berbeda mampu mengesampingkan ego dan fanatisme agamanya, dan sebaliknya mengedepankan nilai-nilai agama dalam perspektif humanis yang universal.

“Tantangan kehidupan kita kedepan sebagai bangsa, khususnya sebagai umat beragama di Indonesia agar mempertebal keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan mengantisipasi adanya dampak negatif globalisasi, kemajuan ilmu dan teknologi serta perubahan sikap dan gaya hidup masyarakat kita, khususnya di kalangan kaum muda-mudi Kristiani.¬† Karena itu pemerintah sangat mengharapkan terbinanya hubungan kemitraan yang sinergis dengan seluruh lembaga keagamaan termasuk GKII, sehingga dapat lebih meningkatkan peran dan fungsinya mensejahterakan kehidupan masyarakat sebagai wujud ibadah kepada Tuhan dan pengabdian kepada bangsa dan negara serta masyarakat pada umurnya,”ungkapnya.

Lebih lanjut kata dia, setiap agama memiliki nilai universal baik itu kemanusiaan, cinta kasih, kedamaian, toleransi, kerukunan, dan lain sebagainya yang dapat mengikat semua orang lintas suku, bangsa, bahasa, budaya dan geografi serta tingkat sosial ekonomi dan pendidikan, sehingga tidak ada alasan bahwa orang yang berbeda agama, tidak akan bisa rukun dan menyatupadukan kekuatan untuk bekerja sama membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. Untuk itu prinsip wawasan multikulturalisme dan kehidupan pluralis perlu terus-menerus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. (HT)