Gubernur VBL Sedih dengan Jumlah Angka Stunting di NTT Capai 80.909 Orang

oleh -17 views

Suara-ntt.com, Labuan Bajo-Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan dan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Provinsi NTT ada sekitar 80.909 orang anak di Provinsi NTT dikategorikan stunting.

“Memang betul terjadi penurunan stunting tapi jika penurunannya biasa-biasa saja artinya kerja kita kurang maksimal karena yang kita bicarakan ini adalah nyawa manusia. Jika hanya melihat secara statistik memang penurunannya sudah bagus yaitu sampai pada 21 persen, akan tetapi jika kita melihat dari jumlah maka saya merasa sedih karena masih ada 80.909 manusia yang masih stunting,” kata
Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) pada acara Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting se-Provinsi NTT, di aula Hotel Sylvia Labuan Bajo pada Senin, 11 Oktober 2021.

Gubernur Viktor menyampaikan bahwa kegiatan hari ini merupakan salah satu langkah mewujudkan mimpi Presiden Jokowi yaitu Generasi Emas pada 2045.

“Mimpi Presiden Jokowi, negara ini pada 2045 akan menatap masa depan dengan generasi emasnya. Jika cita-citanya seperti itu maka yang kita lakukan hari ini adalah desain dan perencanaan untuk kita menuju 2045 membawa bonus demografi menjadi generasi unggul”, ungkapnya.

Dikatakan, menyelesaikan stunting di NTT tidak bisa jika hanya dilakukan dengan cara-cara yang biasa saja.

“NTT merupakan salah satu penyumbang stunting terbesar di Indonesia. Maka dari itu ini merupakan tantangan kita bersama untuk para bupati dan saya sendiri sebagai Gubernur. Karena menyelesaikan masalah stunting tidak bisa hanya dilakukan dengan cara yang biasa. Konvergensi mengharuskan kita melakukan langkah-langkah yang terpadu, terarah dan secara bersama-sama serta kerja-kerja lapangan yang kita harus kuasai. Jika kita mampu untuk mendesain untuk mengetahui seluruh kelahiran dengan kerja sama kepala desa, tokoh agama, camat kepala dinas, bupati sampai pada gubernur maka saya yakin 1.000 hari pertama kehidupan bayi akan bisa diperhatikan dan stunting bisa diatasi”, jelasnya.

Dia menghimbau agar permasalahan stunting diselesaikan dengan kerja sama antara pemangku kepentingan dengan stakeholder masyarakat karena permasalahan stunting merupakan tanggung jawab bersama.

“Saya berterima kasih atas kerja-kerja selama ini akan tetapi kita harus mensinergikan lagi seluruh stakeholder masyarakat agar masalah stunting di NTT dapat segera terselesaikan. Dan saya mengharapkan hal-hal seperti ini dapat kita lanjutkan dengan semangat kita bersama, tanggung jawab kita adalah bagaimana kita menyelamatkan 80.909 anak yang akan menjadi generasi masa depan untuk menopang pertumbuhan NTT kedepannya,”ucapnya.

Sementara Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Provinsi NTT, Kosmas Lana menyampaikan persentase penurunan stunting di NTT, dimana pada tahun 2021 mengalami penurunan sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan tahun 2020.

“Pada penilaian kinerja konvergensi stunting tahun 2021 terdapat beberapa pencapaian. Dibandingkan dengan tahun 2020, tahun 2021 penurunan stunting sebesar 3,2 persen. Pada bulan Agustus 2020 yang lalu stunting NTT berada pada angka 24,2 persen. Pada Agustus tahun ini stunting kita berada pada angka 21 persen”, lapor Kosmas

Lebih lanjut Kosmas menyampaikan tujuan pelaksanaan rapat koordinasi ini merupakan evaluasi terhadap kinerja penanganan stunting di NTT.

“Tujuan pelaksanaan rapat koordinasi yang kita laksanakan saat ini adalah evaluasi dari terhadap kinerja pelaksanaan aksi konvergensi stunting yang dilaksanakan setiap tahun. Dalam kegiatan ini juga akan diberikan piagam penghargaan beserta sarana yang selama ini dikeluhkan oleh kabupaten/kota untuk menginput data kedalam aplikasi yang sudah ditentukan. Dan juga kegiatan ini merupakan komitmen bersama antara Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk terus menerus serta bahu membahu melakukan percepatan penurunan stunting sampai dengan akhir periode perencanaan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota masing-masing,”pungkasnya. (HT)