Pemprov NTT Gunakan Tiga Sumber Dana untuk ‘Keroyok’ Jalan Provinsi

oleh -26 views

Suara-ntt.com, Kupang-Di era kepemimpinan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi berkomitmen untuk menuntaskan ruas jalan provinsi dalam jangka waktu tiga tahun.

Untuk penyelesaikan ruas jalan provinsi tersebut, pemda setempat menggunakan tiga sumber dana atau anggaran yakni dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK) dan pinjaman daerah.

“Ada tiga sumber dana yang kita gunakan dalam tuntaskan jalan provinsi di NTT yaitu dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK) dan pinjaman daerah,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT, Maksi Nenabu didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Marius Jelamu kepada wartawan di ruang Media Center, Kantor Gubernur, Selasa (1/9/2020).

Dikatakan, khusus untuk pinjaman daerah itu diperoleh dari Bank NTT dengan anggaran sebesar Rp 149,7 milliar untuk membiayai 15 ruas jalan dengan panjang 108 kilometer. Sementara pinjaman lainnya dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dengan total anggaran sebesar Rp 189,7 miliar untuk membiayai 16 ruas jalan sepanjang 153 km. Dan semua jalan tersebut tersebar di seluruh NTT.

Dijelaskan, untuk pinjaman dari Bank NTT sudah dikontrakan sejak bulan April 2020 lalu. Sedangkan dari PT SMI sementara berproses untuk dikontrakan karena masih menunggu rekomendasi Amdal dari instansi teknis.

“Untuk DAK, ada dua jenis yakni DAK penugasan khusus untuk menunjang daerah wisata premium Labuan Bajo untuk dua ruas jalan yakni Simpang Noah- Golowelu dan Nggorang-Kondo-Noah-Hita. Juga DAK Regular untuk dua ruas di Timor dari Barate-Manubelon- Naikliu. Minggu lalu dari Bappelitbanda NTT juga menginformasikan, akan ada penambahan dari alokasi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk perbaikan infrastruktur jalan,”jelasnya.

Dia mengaku sangat optimis bahwa target untuk menyelesaikan jalan provinsi tersebut dapat terealisasi di tahun ketiga atau tahun 2021.

“Kami memang diberi tugas berat untuk menyelesaikan jalan provinsi, tapi kami optimis bisa melaksanakan tugas dari bapak Gubernur dan Wakil Gubernur ini. Kami telah membuat roadmap untuk pengerjaan jalan ini yang telah disampaikan kepada DPRD (NTT). Targetnya adalah 2021 harus sudah selesai,”ujarnya.

Dia merincikan, dari total 2.650 kilometer jalan provinsi di seluruh NTT, ada sekitar 906 yang dikategorikan dalam kondisi tidak mantap. Dimana kondisinya dalam keadaan rusak ringan dan rusak berat.

Dalam roadmap tersebut, dalam tahun tahun 2020, targetnya adalah 450 kilometer ruas jalan provinsi yang diperbaiki. Namun realisasinya hanya 372,74 kilometer dan sisanya akan diselesaikan pada tahun 2021 mendatang.

“Di tahun 2020 ini, kita hanya bisa merealisasikan sampai akhir tahun sekitar 372,74 kilometer. Meleset dari target memang, tapi kami akan berjuang dengan bagian program dalam hal ini Bappelitbangda agar ini nanti tercover di tahun depan sehingga tahun 2022 sudah ringan. Dan kami tidak lagi terbebani dengan pekerjaan yang berat-berat,”imbuhnya.

Menurutnya skenario dalam penyelesaian jalan provinsi tersebut tidak seluruhnya dengan konstruksi aspal hotmix atau Hot Roller Sheet (HRS). Melainkan dilakukan kombinasi dengan Grading Operation (GO) atau pekerasan jalan dengan membuat lapisan berbutir dari sertu gunung atau kali serta GO plus yakni dengan modifikasi struktur, dicampur dengan semen dan zat adiktif. Hal tersebut setara dengan agregat dan konstruksi bina marga.

“Kalau kita menggunakan aspal semua, dibutuhkan dana sebesar Rp 4 triliun lebih. Sementara anggaran kita terbatas. Karenanya, kami buat kombinasi seperti ini. Biayanya terjangkau dan konstruksinya juga sesuai spesifikasi bina marga. Ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat NTT hari ini terhadap kondisi jalan yang sangat parah, berlubang dan kubangan. Kalau di tempat yang parah, kita gunakan GO dan GO plus, sementara untuk tanjakan atau critical point kita gunakan HRS,” bebernya.

Penanganan dengan cara tersebut, kata dia untuk menjawab kebutuhan dan target sehingga terjadi perubahan pada kecepatan tempuh dan waktu tempuh. Kalau sebelumnya kecepatannya hanya bisa 10 sampai dengan 15 km per jam, setelah perbaikan akan mengalami peningkatan. Demikian juga dengan waktu tempuh, kalau sebelumnya 4 sampai 5 jam, sesudah perbaikan walaupun dengan kontruskis GO dan GO plus diharapkan ada penurunan waktu tempuh secara signifikan sampai setengahnya.

“Kami punya contoh misalnya di Kabupaten Manggarai Barat, ruas jalan simpang Nggorang-Kondo- Noah yang sebelumnya ditempuh selama kurang lebih 6 jam. Setelah ditangani dan diintervensi, waktu tempuhnya jadi dua setengah jam. Itu kombinasi antara GO dan HRS, begitupun di tempat-tempat lain. Ke depan kami akan meningkatkan jenis permukaan yang ada GO kita tutupi dengan aspal. Tapi minimal kondisi di lapangan sudah berubah,”pungkasnya.

Lebih lanjut kata dia, terkait kualitas jalan, tidak diragukan dan menjamin hal itu karena dilakukan oleh tim laboratorium pengujian teknik jalan pekerjaan umum. Dari hasil pengujian, baru ada tindakan administrasinya.

“Kami menjamin itu dilakukan secara baik. Sementara untuk rekanan atau kontraktor yang mengerjakan jalan, kami selalu melakukan pengawasan yang ketat. Kalau ditemukan pelanggaran di lapangan, kami mengambil langkah sesuai prosedur administrasi kontrak. Kalau sesudah teguran tidak ada kemajuan, kami mengambil tindakan administratif sampai pada taraf yang paling tinggi yakni pemutusan hubungan kerja (PHK),”tegasnya

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Jelamu Ardu Marius menegaskan, informasi pembangunan dari instansi teknis untuk menjawab kebutuhan kebutuhan masyarakt terkait program-program strategis dari Gubernur VBL dan Wagub JNS.

“Kami harapkan dengan informasi ini, masyarakat dapat terlibat aktif dalam mengawas dan mengontrol proyek-proyek pemerintah provinsi sehingga sungguh bermanfaat bagi masyarakat NusaQ³ Tenggara Timur,” jelas Marius. (HT)