Komponen Bahan Makanan dan Tembakau Jadi Pemicu Terjadinya Deflasi di NTT

oleh -30 views

Suara-ntt.com, Kupang-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan Agustus 2020 mengalami deflasi sebesar 0,71 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 103,55 pada Bulan Juli 2020 menjadi 102,82 pada Bulan Agustus 2020.

“Deflasi ini disebabkan oleh penurunan indeks harga pada tujuh dari 11 kelompok pengeluaran,” kata Kepala BPS Provinsi NTT, Darwis Sitorus didampingi oleh Kepala BPS Kota Kupang, Ramly Kurniawan Tirtokusumo kepada wartawan, Selasa (1/9/2020).

Sitorus mengatakan, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik sebesar 2,19 persen, diikuti oleh turunnya indeks harga kelompok transportasi sebesar 0,73 persen.

Dikatakan, pada bulan Agustus 2020 Provinsi NTT mengalami Deflasi searah dengan yang terjadi pada tahun sebelumnya yaitu bulan Agustus 2019 dimana Provinsi Kepulauan ini mengalami deflasi sebesar 0,29 persen. Deflasi Agustus 2020 lebih tinggi dibandingkan dengan Deflasi Agustus 2019.

Menurutnya kelompok pengeluaran merupakan pemberi andil terbesar dalam pembentukan deflasi di bulan Agustus 2020 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar -0,73 persen. Sedangkan komponen bahan makanan memberikan andil sebesar -0,69 persen.

Dijelaskan, berdasarkan hasil penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), pada bulan Agustus 2020, Kota Kupang mengalami Deflasi sebesar 0,92 persen, atau terjadi penurunan IHK dari 103,43 pada bulan Juli 2020 menjadi 102,48 pada Agustus 2020.

Deflasi Agustus 2020 didorong oleh penurunan indeks harga pada 7 dari 11 kelompok pengeluaran, dimana penurunan indeks terbesar terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,90 persen diikuti oleh penurunan indeks harga kelompok transportasi sebesar 0,84 persen .

Searah dengan tahun sebelumnya Agustus 2019 dimana Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,33 persen, pada Agustus 2020 ini Kota Kupang mengalami Deflasi yang lebih besar yakni sebesar 0,92 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan deflasi Kota Kupang bulan Agustus 2020 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar -0,91 persen.

Beberapa komoditas utama yang menyumbang andil deflasi di Kota Kupang Agustus 2020 antara lain turunnya harga ikan kembung, daging ayam ras, angkutan udara, ikan tongkol, cabai rawit, sawi putih, bayam, ikan tembang, gula pasir dan tomat.

Sedangkan komoditas utama yang menghambat deflasi Kota Kupang antara lain naiknya harga emas perhiasan, bimbingan belajar, jantung pisang, wortel, ketimun, ikan cakalang, ikan kakap merah, obat gosok, ikan teri, dan pasta gigi.

Pada bulan Agustus 2020, Kota Maumere mengalami Inflasi sebesar 0,71 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 103,96 pada bulan Juli 2020 menjadi 104,70 pada Agustus 2020.

Pemicu Inflasi bulan Agustus 2020 di Kota Maumere adalah karena kenaikan indeks harga pada 8 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,43 persen diikuti oleh
kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 1,39 persen.

Berlawanan arah dengan kondisi bulan Agustus 2019 dimana Kota Maumere mengalami Deflasi sebesar 0,04 persen, pada Agustus 2020 ini Kota Maumere mengalami Inflasi yaitu sebesar 0,71 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan Inflasi Kota Maumere bulan Agustus 2020 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,53 persen.

Beberapa komoditas utama yang menyumbang andil inflasi di Kota Maumere pada Agustus 2020 antara lain naiknya harga ikan layang, talas/keladi, ikan selar, ikan tongkol, angkutan udara, ikan tuna, daun singkong, daging ayam ras, emas perhiasan, dan ikan tembang. Sedangkan komoditas utama yang menghambat inflasi antara lain turunnya harga sawi hijau, tomat, bawang merah, cabai rawit, ikan kembung, gula pasir, asam, semen, telepon seluler, dan terong.

Sementara Kota Waingapu pada bulan Agustus 2020 juga mengalami Deflasi sebesar 0,48 persen, atau terjadi penurunan IHK dari 104,19 pada bulan Juli 2020 menjadi 103,69 pada Agustus 2020.

Pemicu deflasi bulan Agustus 2020 di Kota Waingapu adalah karena penurunan indeks harga pada 2 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga terbesar yaitu kelompok transportasi sebesar 1,21 persen diikuti oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,17 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan Deflasi Kota Waingapu bulan Agustus 2020 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar -0,50 persen.

Beberapa komoditas utama yang menyumbang andil deflasi di Kota Waingapu pada Agustus 2020 antara lain turunnya harga tomat, daging ayam ras, sawi hijau, angkutan udara, bawang merah, daging babi, gula pasir, buncis, kol putih, dan ikan kerapu. Sedangkan komoditas utama yang menghambat deflasi antara lain naiknya harga ikan tongkol, ikan kembung, daun singkong, ikan tembang, ayam hidup, minyak goreng, emas perhiasan, tarif gunting rambut pria, labu siam, dan bayam.

Untuk diketahui bahwa dari 28 kota sampel IHK Nasional di Kawasan Timur Indonesia pada bulan Agustus 2020 ini ada 12 kota mengalami inflasi dan 16 kota mengalami deflasi. Kota yang mengalami inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado dan Maumere sebesar 0,71 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Kotamobagu sebesar 0,02 persen.

Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Kota Kupang sebesar 0,92 persen dan deflasi terendah terjadi di kota Mataram sebesar 0,03 persen.

Dari 90 kota sampel IHK Nasional pada bulan Agustus 2020 sebanyak 37 kota mengalami inflasi dan 53 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Meulaboh sebesar 0,88 persen dan terendah terjadi di Kota Batam, Kediri dan Kotamobagu dengan inflasi sebesar 0,02 persen.

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Kupang sebesar 0,92 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Banyuwangi, Bekasi, Tembilahan dan Sibolga sebesar 0,01 persen.

Lebih lanjut kata dia, Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan.

Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan atau hari kerja pertama oleh BPS. (Hiro Tuames)