Kota Kupang dan Waingapu Alami Inflasi, Maumere Deflasi

oleh -18 views

Suara-ntt.com, Kupang-Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT pada bulan Mei 2020, ada dua kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengalami Inflasi sebesar 0,12 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 103,92.

Kedua kota tersebut antara lain, Kota Kupang mengalami Inflasi sebesar 0,15 persen dan Kota Waingapu sebesar 0,06 persen. Sementara Kota Maumere mengalami deflasi sebesar 0,05 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Darwis Sitorus mengatakan, inflasi pada bulan Mei 2020 di Nusa Tenggara Timur terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada 8 dari 11 kelompok pengeluaran.

“Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar adalah kelompok transportasi yang naik sebesar 3,47 persen. Dan diikuti oleh naiknya indeks harga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,63 persen,” katanya secara virtual atau live streaming, Selasa (2/0/2020).

Sitorus mengatakan, NTT mengalami Inflasi sebesar 0,12 persen, searah dengan yang terjadi pada tahun sebelumnya yaitu bulan Mei 2019 dimana Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami Inflasi sebesar 0,30 persen. Inflasi Mei 2020 lebih rendah dibandingkan dengan Inflasi Mei 2019.

Menurutnya kelompok pengeluaran, pemberi andil terbesar dalam pembentukan Inflasi di Nusa Tenggara Timur bulan Mei 2020 adalah kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,46 persen.

Sedangkan komponen bahan makanan memberikan andil sebesar -0,47 persen dalam pembentukan Inflasi Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan hasil penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), pada bulan Mei 2020, Kota Kupang mengalami Inflasi sebesar 0,15 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 103,71 pada bulan April 2020 menjadi 103,87 pada Mei 2020.

Inflasi Mei 2020 kata dia, didorong oleh kenaikan indeks harga pada 7 dari 11 kelompok pengeluaran, dimana kenaikan indeks terbesar terjadi pada kelompok transportasi sebesar 3,95 persen diikuti oleh kenaikan indeks harga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,64 persen.

Searah dengan tahun sebelumnya Mei 2019 dimana Kota Kupang mengalami Inflasi sebesar 0,29 persen. Pada Mei 2020 ini Kota Kupang mengalami Inflasi yang lebih besar yakni sebesar 0,15 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan Inflasi Kota Kupang bulan Mei 2020 adalah kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,55 persen.

Lebih lanjut kata dia, beberapa komoditas utama yang menyumbang andil inflasi di Kota Kupang Mei 2020 antara lain naiknya tarif angkutan udara, cabai rawit, daun singkong, gula pasir, ikan teri, pepeya muda, bunga papaya, kentang, bawang merah, dan daging ayam ras.

Sedangkan komoditas utama yang menghambat inflasi Kota Kupang antara lain turunnya harga ikan kembung, wortel, tomat, kangkung, bawang putih, bayam, ikan tembang, telur ayam ras, sawi putih, dan cabai merah.

Berdasarkan hasil penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), pada bulan Mei 2020, Kota Maumere mengalami Deflasi sebesar 0,05 persen, atau terjadi penurunan IHK dari 103,36 pada bulan April 2020 menjadi 103,31 pada Mei 2020.

Pemicu Deflasi bulan Mei 2020 di Kota Maumere adalah karena penurunan indeks harga pada 3 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga
terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar -0,59 persen diikuti oleh kelompok pakaian dan alas kaki sebesar -0,09 persen.

Berlawanan arah dengan kondisi bulan Mei 2019 dimana Kota Maumere mengalami Inflasi sebesar 0,42 persen, pada Mei 2020 ini Kota Maumere mengalami Deflasi yaitu sebesar 0,05 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan Deflasi Kota Maumere bulan Mei 2020 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar-0,22 persen.

Beberapa komoditas utama yang menyumbang andil deflasi di Kota Maumere pada Mei 2020 antara lain adalah turunnya harga ikan tuna, bawang putih, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, sawi hijau, wortel, daging ayam ras, daging babi, dan cabai merah.

Sedangkan komoditas utama yang
menghambat deflasi antara lain naiknya harga ikan selar, tarif angkutan udara, bawang merah, ikan layang, emas perhiasan, bayam, kangkung, ayam hidup, pisang, dan ikan kakap merah.

Berdasarkan hasil penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), pada bulan Mei 2020, Kota Waingapu mengalami Inflasi sebesar 0,06 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 104,95 pada bulan April 2020 menjadi 105,01 pada Mei 2020.

Pemicu Inflasi bulan Mei 2020 di Kota Waingapu adalah karena kenaikan indeks harga pada 6 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga terbesar yaitu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 5,96 persen diikuti oleh kelompok kesehatan sebesar 0,95 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan Inflasi Kota Waingapu bulan Mei 2020 adalah kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya dengan andil sebesar 0,09 persen. Beberapa komoditas utama yang menyumbang andil inflasi di Kota Waingapu pada Mei 2020 antara lain naiknya harga bawang merah, daging ayam ras, daging babi, ikan kembung, daun singkong, kopi bubuk, buku tulis bergaris, angkutan udara, ketela pohon, dan pisang.

Sedangkan komoditas utama yang menghambat inflasi antara lain turunnya harga sawi hijau, ikan tembang, bawang putih, tomat, cabai rawit, ikan tongkol, bunga papaya, telur ayam ras, ikan bubara, dan ikan kakap merah.

Dari 28 kota sampel IHK Nasional di Kawasan Timur Indonesia pada bulan Mei 2020 ini 17 kota mengalami inflasi dan 11 kota mengalami deflasi. Kota yang mengalami inflasi tertinggi terjadi di Kota Timika sebesar 0,90 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Waingapu sebesar 0,06 persen.

67 Kota Alami Inflasi dan 23 Deflasi

Pada sisi lain Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Darwis Sitorus mengatakan, pada Mei 2020, dari 90 kota sampel IHK Nasional, 67 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi.

Kota yang mengalami inflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 1,20 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Tanjung Pinang, Bogor, Madiun sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Kota Luwuk sebesar 0,39 persen dan deflasi terendah terjadi di kota Manado sebesar 0,01 persen.

“Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering kita digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah
perkotaan.

Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga,”ungkapnya.

Di Indonesia kata dia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK
dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Kota Luwuk sebesar 0,39 persen dan deflasi terendah terjadi di kota Manado sebesar 0,01 persen.

Dari 90 kota sampel IHK Nasional pada bulan Mei 2020 sebanyak 67 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 1,20 persen dan terendah terjadi di Kota Tanjung Pinang, Bogor, Madiun dengan inflasi sebesar 0,01 persen.

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Luwuk sebesar 0,39 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Manado sebesar 0,01 persen. (Hiro Tuames/Humas BPS NTT)