Malaka Harus Jadi Model untuk Pengembangan Kelor di NTT

oleh -21 views

Suara-ntt.com, Kupang-Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengatakan, Kabupaten Malaka merupakan salah satu tempat terbaik untuk pengembangan atau budidaya tanaman kelor.

“Malaka harus jadi model untuk tanam kelor,” tegas Gubernur saat berbicara di Rumah Jabatan Bupati Malaka di Haitimuk, Minggu (09/02/2020) malam.

Dia menginstruksikan agar setiap kepala keluarga (KK) atau rumah tangga harus tanam lima (5) pohon kelor. Karena kelor merupakan pohon ajaib.

“Kalau kita mengkonsumsi kelor secara rutin maka sesungguhnya kita tidak perlu lagi minum susu. Kelor di atas dari susu. Kelor harus kita propagandakan terus di NTT,” tandasnya.

Gubernur berharap agar pihak gereja ikut mendukung dan menyukseskan program kelor.

“Jadi kalau ada yang mau menikah. Para perempuannya harus makan kelor. Kalau mereka tidak makan kelor maka mereka tidak dapat restu dari pihak gereja,” ujarnya.

Jika program kelor ini berjalan dengan baik, sebut mantan Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR RI ini, maka ke depan Provinsi NTT tidak lagi ada stunting. “Karena banyak orang makan kelor. Program ini harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh,” pintanya.

Gubernur menjelaskan, hasil penelitian membuktikan bahwa jika kita menanam 100 pohon kelor maka kita mampu membiayai dua (2) anak untuk sekolah sampai jenjang pendidikan master (strata 2). “Karena itu, di bawah pemerintahan saya tidak ada yang tidak tanam kelor,” tegas Gubernur.

25 Miliar untuk Infrastruktur Jalan Provinsi

Pada sisi lain, Gubernur VBL mengatakan tahun 2020 ini Kabupaten Malaka memperoleh dana sebesar Rp 25 miliar untuk mengurus jalan provinsi sepanjang 30 km.

Dia juga memuji perkembangan dan kemajuan pembangunan di Kabupaten Malaka.

“Saya nilai Kabupaten Malaka mulai ada kemajuan,” pujinya.

Minta Bupati Stef Desain Model Pendidikan di Malaka

Pada kesempatan itu Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) meminta kepada Bupati Malaka, dr. Stef Bria Seran, M.Ph untuk mendesain dan di tahun 2021 mempraktekkan model atau sistem pendidikan di SD, SMP, SMA/SMK hanya tiga (3) mata pelajaran saja.

“Saya minta Pak Bupati Malaka, atur anak-anak kita mulai dari SD, SMP, SMA/SMK cukup tiga mata pelajaran saja,” kata Gubernur VBL.

Ketiga mata pelajaran itu sebut Gubernur VBL, adalah berhitung, bahasa dan sejarah keindonesiaan.

“Selama ini para guru mengajar terlalu banyak mata pelajaran. Ajar semua tapi tidak ada yang tahu. Di Kupang ada anak SD kelas 5 tapi tidak tahu membaca. Ini repot. Karena itu, tahun 2021 tidak ada ujian nasional maka kita di NTT; saya akan lapor Bapak Presiden, kita cukup tiga mata pelajaran saja yakni berhitung (logika dan matematika), bahasa (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerah), dan sejarah Indonesia. Selama ini transfer knowledge ini yang perlu dilatih,” tegas Gubernur seraya menambahka,”Kalau anak-anak ini sudah kuat dengan tiga mata pelajaran saja maka mereka mau ke kampus mana saja pasti tembus. Karena standar pendidikan di Malaka sama dengan di Amerika.”
Gubernur VBL berharap kepada semua stake holders untuk tidak main-main dengan produk sumber daya manusia di Provinsi NTT. “Jangan bermimpi mau berhasil kalau model atau sistem pendidikan kita masih seperti ini. Ini tantangan kita. Kalau kita belajar masih seperti ini terus dengan banyak mata pelajaran maka hanya menunggu gila saja,” kritik Gubernur.
Karena itu, Gubernur VBL berharap agar gagasan untuk menerapkan tiga mata pelajaran saja harus dimulai dari Kabupaten Malaka. “Harus dari Malaka tahun 2021. Kita harus menerapkan langkah-langkah yang radikal dalam dunia pendidikan,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui Gubernur VBL bersama rombongan melaksanakan kunjungan kerja selama dua hari di Kabupaten Malaka terhitung sejak Minggu (09/2/2020) dan Senin (10/02/2020).

Pada Minggu sore Gubernur bersama rombongan mengunjungi Hasan Maubesi di Desa Failuka Kecamatan Malaka Tengah.
Senin pagi Gubernur bersama rombongan direncanakan akan mengunjungi pembangunan jembatan Horoe II di Desa Sanleo dan pada siang pukul 11.00 wita Gubernur dan rombongan meninjau pengembangan porang dalam kawasan hutan di Nenuk Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu.
(Hiro/Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)